![]() |
| Unnes Culture Sphere yang digelar pada 9 Oktober lalu menjadi wujud persatuan seluruh Organisasi Daerah (Orda) dalam merayakan keberagaman budaya Nusantara sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di jiwa generasi muda. Foto:Oct23 (dokumen pribadi) |
SEMARANG, BABAD.ID | Stori Loka Jawa – Kementerian Dalam Negeri BEM KM UNNES 2026 Kabinet Saka Cita menggelar pergelaran kebudayaan bertajuk UNNES Culture Sphere (UCS) 2026 di Auditorium Prof. Wuryanto, Universitas Negeri Semarang, Jumat (9/10/2026). Acara ini menjadi wadah ekspresi seni serta ruang temu budaya bagi mahasiswa dari berbagai daerah maupun luar negeri.
Wakil Ketua Pelaksana UCS 2026, Tiara, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk menyediakan wadah bagi mahasiswa dalam mengekspresikan seni dan budaya. Selain itu, pergelaran ini memberi kesempatan bagi organisasi daerah (ORDA) serta mahasiswa internasional untuk memperkenalkan kebudayaan masing-masing.
"Dalam kegiatan ini terdapat sekitar 23 organisasi daerah yang ikut berpartisipasi. Organisasi tersebut terdiri atas organisasi daerah dalam negri maupun luar negeri. Selain itu, mahasiswa internasional juga turut berpartisipasi dengan menghadirkan tenant dan penampilan mereka sendiri," ujar Tiara.
Rangkaian acara UCS 2026 meliputi parade budaya, stand (tenant) dari tiap organisasi daerah, pertunjukan seni dari ORDA dan mahasiswa internasional, serta panggung hiburan.
Mengenai proses persiapan, Tiara mengungkapkan bahwa panitia menghadapi sejumlah hambatan teknis. "Tantangan yang saya rasakan sebenarnya lebih banyak berasal dari diri saya sendiri. Mengingat ada cukup banyak kegiatan dan hal yang harus dipersiapkan, terkadang muncul kendala dalam komunikasi dan koordinasi. Selain itu, adanya libur semester juga menjadi salah satu hambatan dalam proses persiapan kegiatan," kata Tiara.
Kendati demikian, antusiasme peserta tetap tinggi. Beberapa organisasi daerah bahkan melakukan persiapan maksimal hingga membawa perlengkapan langsung dari daerah asal. "Bahkan, ada peserta yang sampai pulang ke daerah asalnya untuk menyewa kostum demi menunjang penampilan mereka," tambah Tiara.
Salah satu peserta parade dari Organisasi Daerah Temanggung, Rafli, memperagakan busana seni tradisional Kuda Lumping atau Jaran Kepang khas Temanggung. Ia tampil mengenakan busana prajurit lengkap dengan wig berukuran besar.
"Kenapa kami dari Temanggung memilih busana ini? Karena memang ini culture khas dari Temanggung. Jadi dari dulu memang Temanggung terkenal dengan Jaran Kepangnya. Filosofinya itu seperti prajurit berkuda yang berperang," kata Rafli.
Rafli menyebutkan bahwa tantangan utama selama persiapan terletak pada tata rias (make-up) karakter. "Kalau baju kan di Temanggung tuh banyak juga. Tapi make-up-nya yang bisa itu jarang. Gak semua orang tuh bisa," tuturnya. Ia juga menyampaikan harapannya agar generasi muda terus melestarikan budaya lokal.
Tanggapan positif turut disampaikan oleh pengunjung acara. Seorang pengunjung mengapresiasi kesungguhan para peserta dalam mempersiapkan kostum dan perhiasan. Sementara itu, pengunjung lainnya menilai kegiatan ini memberikan wawasan baru mengenai identitas serta julukan daerah di Indonesia, seperti Boyolali dan Banyumas. Pengunjung juga menyarankan agar promosi kegiatan pada pelaksanaan berikutnya diperluas guna meningkatkan jangkauan audiens.
Mengenai evaluasi internal, Tiara menandaskan pentingnya peningkatan komunikasi dan hubungan antaranggota panitia untuk penyelenggaraan di masa mendatang. "Hal yang masih perlu diperbaiki adalah komunikasi dan koordinasi antarpanitia. bonding atau kedekatan antaranggota panitia juga masih perlu ditingkatkan," pungkasnya.***
