TfCoBUA5GUO9GUA5BUM7TSAp
Anda cari apa?

Labels

SUMBA MEMBACA Libatkan Tokoh Adat dan Guru Gali Cerita Lokal untuk Buku Literasi dan Numerasi Anak

FGD mempertemukan pemangku adat Marapu, Dinas Pendidikan, guru SD, dan mitra akademik untuk memastikan buku anak berakar pada budaya Sumba Timur.

FGD Tim Peneliti UNNES dengan Umbu Remi.

SUMBA TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR — Tim peneliti Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui riset “SUMBA MEMBACA: Pengembangan Buku Bacaan Bermutu Berbasis Kearifan Lokal Sumba untuk Meningkatkan Literasi, Numerasi, dan Karakter Siswa Sekolah Dasar di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur” melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bersama pemangku adat Marapu Umbu Remi, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Sumba Timur, sejumlah guru sekolah dasar, serta mitra perguruan tinggi lokal.

FGD menjadi salah satu tahap penting dalam pengembangan seri buku bacaan anak yang tidak hanya menarik dan sesuai dengan perkembangan siswa sekolah dasar, tetapi juga memiliki pijakan budaya yang kuat. Melalui forum ini, tim riset menggali ide cerita, istilah, praktik budaya, nilai kehidupan, serta pengetahuan lokal yang hidup di tengah masyarakat Sumba Timur untuk diolah menjadi cerita yang mendukung literasi, numerasi, dan pembentukan karakter.

Umbu Remi, sebagai pemangku adat Marapu, memberikan masukan mengenai berbagai praktik budaya serta makna yang menyertainya. Keterlibatan tokoh adat penting untuk memastikan bahwa budaya Sumba Timur tidak hanya hadir sebagai latar atau ornamen cerita, melainkan direpresentasikan secara tepat, kontekstual, dan menghormati batas-batas budaya yang berlaku.

Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Sumba Timur serta para guru SD turut memberikan masukan dari perspektif pendidikan. Diskusi mencakup keterbacaan teks, kesesuaian cerita dengan usia siswa, tingkat kesulitan numerasi, penggunaan kosakata lokal, penguatan karakter, serta kemungkinan pemanfaatan buku sebagai bahan bacaan pendamping di sekolah.

Dalam proses FGD, berbagai gagasan cerita yang telah dikembangkan tim dibaca kembali, dikritisi, dan diperkaya bersama. Peserta menelaah apakah tokoh, latar, aktivitas, istilah, benda budaya, hingga alur cerita benar-benar sesuai dengan konteks Sumba Timur. Bagian-bagian yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut juga ditandai untuk dikonfirmasi kembali kepada masyarakat dan tokoh adat sebelum buku difinalisasi.

Pendekatan partisipatif ini sejalan dengan rancangan riset SUMBA MEMBACA yang menempatkan need assessment, observasi sekolah, diskusi dengan pendidik, dan tokoh adat sebagai landasan pengembangan. Program menargetkan pengembangan delapan buku bacaan berbasis budaya Sumba Timur, disertai desain konten dan ilustrasi, validasi, revisi, serta rencana pemanfaatannya dalam pembelajaran. Berdasarkan laporan progres September 2026, empat purwarupa buku telah tersedia dari target delapan buku.

Bagi tim peneliti, pelibatan masyarakat lokal sejak tahap awal merupakan bagian penting dalam produksi pengetahuan. Buku anak tidak cukup hanya “berlatar Sumba”, tetapi perlu lahir dari dialog dengan orang-orang yang memahami sejarah, kehidupan, dan nilai budayanya. Dengan cara tersebut, buku diharapkan lebih dekat dengan pengalaman anak sekaligus tetap akurat dan bertanggung jawab secara budaya.

Pengembangan buku dirancang untuk mengintegrasikan literasi, numerasi, dan karakter dalam satu alur cerita. Anak tidak hanya diajak memahami tokoh dan peristiwa, tetapi juga membaca informasi, membuat inferensi, memecahkan masalah numerasi, menggunakan data, memahami ukuran dan waktu, serta merefleksikan nilai-nilai karakter yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Sumba Timur diharapkan memperkuat peluang pemanfaatan hasil riset di sekolah. Selain itu, keterlibatan mitra perguruan tinggi lokal membuka ruang bagi validasi akademik, pengembangan model pemanfaatan buku, dan keberlanjutan program di wilayah Sumba Timur.

Secara lebih luas, SUMBA MEMBACA diarahkan untuk menjawab kebutuhan bahan bacaan yang kontekstual bagi anak. Buku berbasis kearifan lokal berpotensi membuat pengalaman membaca lebih dekat dengan kehidupan siswa, sekaligus menjadi media untuk mengenalkan warisan budaya Sumba Timur secara bertanggung jawab.

Kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

• SDG 4 — Quality Education: pengembangan bahan bacaan bermutu yang mendukung literasi, numerasi, pembelajaran kontekstual, dan pendidikan karakter.

• SDG 10 — Reduced Inequalities: upaya menghadirkan sumber belajar yang lebih dekat dengan konteks budaya siswa dan memperluas akses terhadap bahan bacaan yang relevan.

• SDG 11 — Sustainable Cities and Communities: dukungan terhadap pelestarian dan pewarisan budaya lokal melalui dokumentasi, validasi, dan transformasi pengetahuan budaya menjadi bahan bacaan anak.

• SDG 17 — Partnerships for the Goals: kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, sekolah, guru, dan masyarakat adat dalam proses pengembangan dan validasi buku.

Melalui proses yang partisipatif tersebut, SUMBA MEMBACA tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan buku, tetapi juga membangun model pengembangan bahan bacaan yang menghubungkan sekolah, ilmu pengetahuan, dan kearifan lokal. Harapannya, anak-anak Sumba Timur dapat membaca cerita yang terasa dekat dengan kehidupan mereka, belajar numerasi melalui permasalahan yang bermakna, sekaligus tumbuh dengan rasa bangga dan hormat terhadap warisan budaya daerahnya.

Tentang Riset SUMBA MEMBACA

SUMBA MEMBACA merupakan riset Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek). Riset ini berfokus pada pengembangan delapan buku bacaan bermutu berbasis kearifan lokal Sumba Timur untuk mendukung literasi, numerasi, dan karakter siswa sekolah dasar.***

0Komentar

Tambahkan komentar
© Copyright - berita.babad.id

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • 085875035147
  • redaksibabad.id@gmail.com