
FGD Tim Peneliti UNNES dengan Umbu Remi.
SUMBA TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR — Tim peneliti Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui riset “SUMBA MEMBACA: Pengembangan Buku Bacaan Bermutu Berbasis Kearifan Lokal Sumba untuk Meningkatkan Literasi, Numerasi, dan Karakter Siswa Sekolah Dasar di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur” melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bersama pemangku adat Marapu Umbu Remi, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Sumba Timur, sejumlah guru sekolah dasar, serta mitra perguruan tinggi lokal.
FGD menjadi salah satu tahap penting dalam
pengembangan seri buku bacaan anak yang tidak hanya menarik dan sesuai dengan
perkembangan siswa sekolah dasar, tetapi juga memiliki pijakan budaya yang
kuat. Melalui forum ini, tim riset menggali ide cerita, istilah, praktik
budaya, nilai kehidupan, serta pengetahuan lokal yang hidup di tengah
masyarakat Sumba Timur untuk diolah menjadi cerita yang mendukung literasi,
numerasi, dan pembentukan karakter.
Umbu Remi, sebagai pemangku adat Marapu,
memberikan masukan mengenai berbagai praktik budaya serta makna yang
menyertainya. Keterlibatan tokoh adat penting untuk memastikan bahwa budaya
Sumba Timur tidak hanya hadir sebagai latar atau ornamen cerita, melainkan
direpresentasikan secara tepat, kontekstual, dan menghormati batas-batas budaya
yang berlaku.
Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga
Kabupaten Sumba Timur serta para guru SD turut memberikan masukan dari
perspektif pendidikan. Diskusi mencakup keterbacaan teks, kesesuaian cerita
dengan usia siswa, tingkat kesulitan numerasi, penggunaan kosakata lokal,
penguatan karakter, serta kemungkinan pemanfaatan buku sebagai bahan bacaan
pendamping di sekolah.
Dalam proses FGD, berbagai gagasan cerita
yang telah dikembangkan tim dibaca kembali, dikritisi, dan diperkaya bersama.
Peserta menelaah apakah tokoh, latar, aktivitas, istilah, benda budaya, hingga
alur cerita benar-benar sesuai dengan konteks Sumba Timur. Bagian-bagian yang
masih memerlukan penjelasan lebih lanjut juga ditandai untuk dikonfirmasi
kembali kepada masyarakat dan tokoh adat sebelum buku difinalisasi.
Pendekatan partisipatif ini sejalan dengan
rancangan riset SUMBA MEMBACA yang menempatkan need assessment, observasi
sekolah, diskusi dengan pendidik, dan tokoh adat sebagai landasan pengembangan.
Program menargetkan pengembangan delapan buku bacaan berbasis budaya Sumba
Timur, disertai desain konten dan ilustrasi, validasi, revisi, serta rencana
pemanfaatannya dalam pembelajaran. Berdasarkan laporan progres September 2026,
empat purwarupa buku telah tersedia dari target delapan buku.
Bagi tim peneliti, pelibatan masyarakat lokal
sejak tahap awal merupakan bagian penting dalam produksi pengetahuan. Buku anak
tidak cukup hanya “berlatar Sumba”, tetapi perlu lahir dari dialog dengan
orang-orang yang memahami sejarah, kehidupan, dan nilai budayanya. Dengan cara
tersebut, buku diharapkan lebih dekat dengan pengalaman anak sekaligus tetap
akurat dan bertanggung jawab secara budaya.
Pengembangan buku dirancang untuk
mengintegrasikan literasi, numerasi, dan karakter dalam satu alur cerita. Anak
tidak hanya diajak memahami tokoh dan peristiwa, tetapi juga membaca informasi,
membuat inferensi, memecahkan masalah numerasi, menggunakan data, memahami
ukuran dan waktu, serta merefleksikan nilai-nilai karakter yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari.
Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan
Olahraga Kabupaten Sumba Timur diharapkan memperkuat peluang pemanfaatan hasil
riset di sekolah. Selain itu, keterlibatan mitra perguruan tinggi lokal membuka
ruang bagi validasi akademik, pengembangan model pemanfaatan buku, dan
keberlanjutan program di wilayah Sumba Timur.
Secara lebih luas, SUMBA MEMBACA diarahkan
untuk menjawab kebutuhan bahan bacaan yang kontekstual bagi anak. Buku berbasis
kearifan lokal berpotensi membuat pengalaman membaca lebih dekat dengan
kehidupan siswa, sekaligus menjadi media untuk mengenalkan warisan budaya Sumba
Timur secara bertanggung jawab.
Kontribusi
terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)
•
SDG 4 — Quality Education: pengembangan bahan
bacaan bermutu yang mendukung literasi, numerasi, pembelajaran kontekstual, dan
pendidikan karakter.
•
SDG 10 — Reduced Inequalities: upaya menghadirkan
sumber belajar yang lebih dekat dengan konteks budaya siswa dan memperluas
akses terhadap bahan bacaan yang relevan.
•
SDG 11 — Sustainable Cities and Communities: dukungan
terhadap pelestarian dan pewarisan budaya lokal melalui dokumentasi, validasi,
dan transformasi pengetahuan budaya menjadi bahan bacaan anak.
•
SDG 17 — Partnerships for the Goals: kolaborasi
antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, sekolah, guru, dan masyarakat adat
dalam proses pengembangan dan validasi buku.
Melalui proses yang partisipatif tersebut, SUMBA MEMBACA tidak hanya
diarahkan untuk menghasilkan buku, tetapi juga membangun model pengembangan
bahan bacaan yang menghubungkan sekolah, ilmu pengetahuan, dan kearifan lokal.
Harapannya, anak-anak Sumba Timur dapat membaca cerita yang terasa dekat dengan
kehidupan mereka, belajar numerasi melalui permasalahan yang bermakna,
sekaligus tumbuh dengan rasa bangga dan hormat terhadap warisan budaya
daerahnya.
Tentang
Riset SUMBA MEMBACA
SUMBA MEMBACA merupakan riset Universitas Negeri Semarang (UNNES)
dalam Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek).
Riset ini berfokus pada pengembangan delapan buku bacaan bermutu berbasis
kearifan lokal Sumba Timur untuk mendukung literasi, numerasi, dan karakter
siswa sekolah dasar.***