![]() |
| Moh. Miftahul Arief, dulu seorang loper koran kini raih gelar Doktor Studi Islam di Pascasarjana UIN Walisongo. (dok) |
Sidang promosi doktor tersebut dipimpin langsung oleh Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., yang bertindak sebagai ketua sidang sekaligus penguji. Dalam penetapan kelulusan, Prof. Musahadi menyampaikan apresiasinya atas capaian akademik Arief.
"Kepadanya diberi gelar Doktor Studi Islam, dan merupakan doktor ke-456 yang telah diluluskan oleh UIN Walisongo," kata Prof. Musahadi.
Dalam disertasinya yang berjudul Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan, Arief meneliti fenomena penurunan jumlah siswa MI di sejumlah kota besar Pulau Jawa, yang berbanding terbalik dengan pertumbuhan positif di beberapa MI Kota Semarang. Penelitian multisitus tersebut dilakukan di MI Nurul Islam Ngaliyan, MI Tarbiyatul Khairat Pedurungan, MI Taufiqiyah Tembalang, dan MI Nashrul Fajar Tembalang.
Arief menemukan bahwa pola konsumsi pendidikan masyarakat perkotaan kini tidak lagi sebatas mempertimbangkan faktor agama atau kedekatan lokasi.
"Saya menemukan bahwa masyarakat perkotaan tidak lagi memilih madrasah hanya karena faktor agama atau kedekatan lokasi. Mereka juga mempertimbangkan mutu, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga," ungkap Arief.
Melalui perpaduan strategi Segmenting, Targeting, Positioning (STP) dan bauran pemasaran 7P, Arief merumuskan kebaruan berupa Urban-Spiritual Resonance Model. Model ini melahirkan empat tipologi pemasaran madrasah, yakni Professional-Premium, Balanced-Moderate, Achievement-Inclusive, dan Grassroots-Authentic.
"Urban Marketing bukan hanya strategi merekrut siswa. Ini adalah ikhtiar menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu, profesional, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Islam," jelas Arief.
Ia menegaskan bahwa fleksibilitas penerapan model menjadi kunci bagi setiap lembaga pendidikan.
"Setiap madrasah tidak harus menjadi sama. Mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan karakter masyarakat, lingkungan, dan kekuatan yang dimiliki masing-masing," tegasnya.
Selain formulasi model, penelitian tersebut memetakan fenomena Demand Surplus Indicator berupa sistem inden pendaftaran, loyalitas keluarga lintas generasi, dan rekomendasi wali murid secara organik maupun digital.
"Madrasah yang berhasil bukan yang paling gencar berpromosi. Madrasah yang berhasil adalah madrasah yang mampu menghadirkan mutu dan kepercayaan secara konsisten," pungkas Arief.
Capaian akademik tertinggi ini diraih Arief melalui perjalanan hidup yang penuh tantangan. Semasa kuliah, ia pernah berjualan koran di lampu merah Kalibanteng untuk membiayai pendidikan. Ketika mulai mengajar pada 2005, Arief juga bekerja menjaga outlet Toko Buku Gramedia Pandanaran Semarang hingga pukul 22.00 WIB, serta membuka jasa pengetikan komputer di rumah bersama istrinya.
"Saat menjadi guru MI, pagi mengajar, siang hingga malam menjaga outlet di Gramedia Pandanaran. Saat itu yang saya pikirkan sederhana, bagaimana tetap bisa belajar sambil bekerja," kenang pria yang kini juga melakoni pekerjaan sampingan sebagai sopir taksi online tersebut.
Kiprah Arief di dunia pendidikan terus berkembang. Ia menjabat sebagai Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah periode 2010–2022 dan dinobatkan sebagai Kepala Madrasah Berprestasi oleh Kemenag Kota Semarang pada 2020. Selain itu, ia mendirikan Bimbingan Belajar AIO (Aioprivat) sejak 2014, aktif sebagai jurnalis Majalah AULA NU, serta mendirikan portal media EDUKASIA.ID dan BeritaHaji.id.
Proses penyelesaian penelitian doktoral ini juga dilalui Arief di tengah dinamika keluarga. Ia menulis sebagian disertasinya dari kamar geriatri RSUP Dr. Kariadi Semarang saat mendampingi almarhumah ibunya yang menjalani perawatan komplikasi hingga meninggal dunia setahun lalu.
"Sebagian disertasi ini saya kerjakan di kamar geriatri RS Kariadi. Saat ibu dirawat, saya menunggu sendiri, mengantar dan menjemput beliau, sekaligus menyelesaikan berbagai bagian penelitian di samping tempat tidurnya," ujar pengurus IKA PMII Walisongo itu.
Bagi Arief, gelar doktor tersebut merupakan wujud dedikasi untuk almarhumah ibunya.
"Doktor ini bukan hanya milik saya. Ada doa, pengorbanan, dan perjuangan ibu saya, perempuan hebat hebat yang tak lulus Madrasah Aliyah dan memeras keringat demi pendidikan anak-anaknya," tutur Arief.
Secara terpisah, Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., memberikan apresiasi tinggi atas ketangguhan dan kemampuan literasi Arief.
"Dr. Arief adalah seorang pembelajar sejati. Setiap langkahnya dapat dijadikannya sebagai media belajar. Saya teringat dengan perkataan almarhum Prof. Satjipto Rahardjo bahwa seorang intelektual itu berbicara dengan pena. Dr. Arief benar-benar mempraktikkan hal ini," puji Prof. Muhyar.
Prof. Muhyar menambahkan bahwa pengalaman multidimensi Arief sebagai guru, pengelola madrasah, jurnalis, dan praktisi pendidikan menjadi modal penting untuk terus berkontribusi bagi masyarakat.
"Kemampuan menulisnya di atas rata-rata mahasiswa kami. Saya yakin, Dr. Arief akan bisa berkiprah dalam banyak hal bagi masyarakat melalui madrasah dan dunia pendidikan secara luas," pungkas Prof. Muhyar.***
