![]() |
| Tim PKM-RSH UNNES kaji dampak ketergantungan kecerdasan buatan (AI) terhadap penalaran matematis mahasiswa calon guru matematika di Semarang.(dok) |
Penelitian ini menyoroti kekhawatiran terkikisnya proses berpikir kritis akibat kebiasaan mengandalkan solusi instan dari teknologi dalam menghadapi tuntutan akademik.
Kajian bertajuk "Aillusion" ini dilakukan melalui kolaborasi multidisiplin yang melibatkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika dari tiga universitas di Semarang, yaitu UNNES, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), dan UIN Walisongo.
Kajian bertajuk "Aillusion" ini dilakukan melalui kolaborasi multidisiplin yang melibatkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika dari tiga universitas di Semarang, yaitu UNNES, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), dan UIN Walisongo.
Kegiatan riset ini berjalan di bawah pendampingan dosen pembimbing Dr. Nuriana Rachmani Dewi (Nino Adhi), M.Pd.
Dari sudut pandang psikologis, penelitian ini mengkaji bagaimana tekanan akademik, rasa kurang percaya diri, dan keinginan memperoleh solusi cepat memengaruhi intensitas penggunaan AI di kalangan mahasiswa.
Dari sudut pandang psikologis, penelitian ini mengkaji bagaimana tekanan akademik, rasa kurang percaya diri, dan keinginan memperoleh solusi cepat memengaruhi intensitas penggunaan AI di kalangan mahasiswa.
Tim peneliti mengidentifikasi bahwa kemudahan akses jawaban instan berisiko membuat mahasiswa meninggalkan proses berpikir kritis, yang pada akhirnya memicu keraguan terhadap kapasitas diri saat harus menyelesaikan persoalan tanpa bantuan teknologi.
Subjek mahasiswa calon guru matematika dipilih secara khusus karena kemampuan bernalar mandiri dinilai sebagai modal krusial untuk memecahkan masalah pembelajaran di masa depan.
Subjek mahasiswa calon guru matematika dipilih secara khusus karena kemampuan bernalar mandiri dinilai sebagai modal krusial untuk memecahkan masalah pembelajaran di masa depan.
Tim PKM-RSH UNNES mengingatkan bahwa jika pola penggunaan teknologi tanpa disertai pemahaman mendalam ini terus berulang, dikhawatirkan kebiasaan tersebut akan terbawa saat mereka menjalankan peran sebagai pendidik profesional.
Kendati demikian, hasil penelitian ini tidak menempatkan kecerdasan buatan sebagai ancaman dalam dunia pendidikan.
Kendati demikian, hasil penelitian ini tidak menempatkan kecerdasan buatan sebagai ancaman dalam dunia pendidikan.
Teknologi tetap dipandang sebagai instrumen pendukung belajar yang efektif, asalkan kemudahan yang ditawarkan tidak menggantikan proses berpikir, memahami, serta mengembangkan ilmu pengetahuan secara mandiri.
Langkah ini juga dinilai selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 terkait Pendidikan Berkualitas serta Asta Cita keempat yang menitikberatkan pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan, sains, dan teknologi.***
%20terhadap%20penalaran%20matematis%20mahasiswa%20calon%20guru%20matematika%20di%20Semarang..jpeg)