Puncak Kusala Sastra Khatulistiwa 2026: Kemenbud Ajak Pegiat Sastra Perluas Sinergi Global
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong kolaborasi ekosistem sastra hulu-hilir pada puncak Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 di Jakarta.
JAKARTA, BABAD.ID | Stori Loka Jawa – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat ekosistem sastra Indonesia dari hulu hingga hilir dalam puncak penganugerahan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026 di Graha Utama, Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Minggu (27/9/2026). Penguatan tersebut mencakup pengembangan talenta, penguatan komunitas dan festival, penerjemahan, promosi, hingga perluasan akses pasar dan jejaring internasional.
Puncak acara ini menjadi kelanjutan dari rangkaian KSK 2026 setelah nama-nama pemenang diumumkan secara resmi pada 23 Agustus 2026 lalu. Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon menyampaikan bahwa penghargaan sastra seperti KSK memiliki peran strategis sebagai tonggak penting perkembangan kesusastraan nasional. Selain mengapresiasi sastrawan dan karya yang lahir, ajang ini dinilai efektif memicu lahirnya talenta baru yang mampu merekam pengalaman kemanusiaan dan dinamika zaman.
“Penghargaan-penghargaan seperti ini sangat penting karena merupakan bagian dari apresiasi terhadap munculnya talenta-talenta baru, penulis-penulis baru. Karena bagaimanapun sastra ini adalah ekspresi artistik yang sangat penting membagikan pengalaman kemanusiaan, pengalaman pribadi, emosi, dan memotret zaman,” ungkap Menteri Kebudayaan.
Fadli Zon menjelaskan, sastra merupakan salah satu objek pemajuan kebudayaan yang masuk dalam salah satu dari lima bidang Manajemen Talenta Nasional. Atas dasar itu, Kementerian Kebudayaan menerapkan pendekatan ekosistem secara menyeluruh.
“Dan atas dasar itu Kementerian Kebudayaan membangun pendekatan ekosistem dari hulu hingga hilir mulai dari penciptaan, regenerasi talenta, penguatan komunitas dan festival, penerjemahan, promosi, pengelolaan hak cipta, hingga perluasan akses pasar dan jejaring internasional,” jelasnya.
Lebih lanjut, Menbud mengajak seluruh elemen ekosistem sastra—mulai dari sastrawan, komunitas, festival, penerbit, hingga Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia—untuk mempererat kolaborasi bersama pemerintah dalam menyukseskan program pemajuan sastra.
“Kita berharap ke depan lebih banyak keterlibatan dari pegiat sastra untuk mendukung dan berkontribusi bagi kemajuan sastra di Indonesia. Kerja kolaborasi, sinergi dan gotong royong dalam pemajuan kebudayaan khususnya di bidang sastra ini akan menjadi suara yang penting dalam percakapan sastra dunia,” jelas Menteri Fadli Zon.
Dalam acara yang sama, Ketua Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia, Pratiwi Juliani, menekankan bahwa penganugerahan sastra bukan sebatas forum memilih karya terbaik. Menurutnya, KSK berfungsi sebagai upaya mencatat perjalanan kesusastraan pada suatu masa, termasuk karya, suara, dan persoalan yang muncul serta cara para penulis merespons perubahan dunia.
“Sastra yang baik tidak selalu memberikan jawaban. Sering kali, ia justru membuat kita mengajukan pertanyaan yang mampu melampaui suatu karya itu sendiri,” papar Pratiwi Juliani.
Pada edisi KSK 2026, tiga buku ditetapkan sebagai pemenang untuk tiga kategori utama. Kategori Novel diraih oleh Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia. Kategori Kumpulan Cerita Pendek dimenangkan oleh Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya, terbitan baNANA. Sementara itu, kategori Kumpulan Puisi dianugerahkan kepada Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat, terbitan Lampung Literature.
Secara historis, Kusala Sastra Khatulistiwa bermula dari Khatulistiwa Literary Award pada 2001 yang digagas oleh Richard Oh bersama Takeshi Ichiki, dan menggunakan nama Kusala Sastra Khatulistiwa sejak 2014. Setelah sempat terhenti, penghargaan ini kembali diselenggarakan sejak 2025 oleh Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia. Penyelenggaraan KSK 2026 mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Astra, serta Falcon Pictures.
Puncak penganugerahan KSK 2026 turut dihadiri sejumlah tokoh dan pejabat, antara lain Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Anissa Rengganis, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin, serta General Manager Corporate Communications PT Astra International Tbk Windy Riswantyo. Hadir pula jajaran Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 yang terdiri dari Ni Made Purnama Sari, Andina Dwifatma, Arif Bagus Prasetyo, Martin Suryajaya, dan Saras Dewi.***