![]() |
| Gedung Jiwa Sraya, salah satu bangunan Cagar Budaya di Kawasan Kota Lama Semarang. ( cagarbudaya.semarangkota.go.id/) |
Usulan tersebut diajukan untuk merespons sekaligus menyempurnakan gagasan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang berencana menjadikan bangunan bersejarah tersebut sebagai ruang kebudayaan dan museum fotografi.
Ketua Umum Pakarti, Abdullah Ibnu Thalhah, menerangkan bahwa fotografi dan kartun memiliki kedekatan sejarah yang erat serta tumbuh dari akar yang sama, yaitu media cetak.
“Kami menyambut baik gagasan Bapak Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk menjadikan Gedung Jiwa Sraya sebagai museum fotografi. Kami justru melihat peluang yang lebih luas: mengapa tidak dikembangkan menjadi ruang kebudayaan yang juga menghadirkan Museum Kartun Indonesia? Keduanya memiliki kedekatan sejarah dan sama-sama tumbuh dari akar media cetak,” ujar Abdullah Ibnu Thalhah pada Selasa (8/9/2026).
Thalhah yang juga berprofesi sebagai dosen seni budaya di UIN Walisongo Semarang memaparkan bahwa karya kartun nasional memiliki nilai sejarah kebangsaan yang kuat. Berdasarkan riset internal Pakarti, ditemukan jejak karya kartun dan karikatur bernilai historis tinggi yang digambar oleh sejumlah tokoh pergerakan nasional, seperti Bung Karno pada masa mudanya serta Ernest Douwes Dekker.
Dukungan terhadap usulan pemanfaatan Gedung Jiwa Sraya sebagai museum bersama ini juga disuarakan oleh arsitek senior sekaligus mantan Ketua Dewan Tata Kota Semarang, Prof. Ir. Totok Roesmanto, Eng.
“Keberadaan museum fotografi bersama museum kartun akan semakin menghidupkan Kota Lama secara artistik dan interaktif. Apalagi kita tahu, kartun memiliki sejarah khusus bagi kota Semarang hingga kota ini memiliki sebutan sebagai ‘ibukota kartun Nusantara’,” papar Prof. Totok.
Sebagai tindak lanjut atas gagasan ini, Pakarti menyatakan kesiapan untuk membuka komunikasi dan berdialog dengan Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kota Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta pemangku kepentingan terkait lainnya. Pakarti juga siap menyumbangkan hasil riset serta koleksi kartun bersejarah mereka sebagai koleksi awal pengembangan museum.
“Pakarti siap menyumbangkan koleksi, hasil riset, pengetahuan, jaringan kartunis Indonesia maupun gagasan kuratorial untuk mewujudkan ruang museum kartun Indonesia di Semarang. Kami percaya fotografi, kartun, arsitektur, sejarah dan seni dapat bertemu dalam satu ekosistem kebudayaan,” pungkas Thalhah.
Di sisi legislatif, Senator DPD RI asal Jawa Tengah, Dr. Abdul Kholik, menyambut baik usulan sinergis ini dan menyatakan sedang berupaya membantu mengomunikasikan aspirasi Pakarti ke Kementerian Kebudayaan di Jakarta.
“Kami sedang membantu mengkomunikasikan ide kreatif ini ke kementerian kebudayaan di Jakarta. Kedua gagasan, baik gagasan kementerian kebudayaan maupun teman-teman Pakarti bisa disinergikan dan saling menyempurnakan, sehingga nantinya bisa diambil manfaat yang lebih besar bagi kemajuan kebudayaan,” ungkap Abdul Kholik.***
Ketua Umum Pakarti, Abdullah Ibnu Thalhah, menerangkan bahwa fotografi dan kartun memiliki kedekatan sejarah yang erat serta tumbuh dari akar yang sama, yaitu media cetak.
Menurutnya, kedua medium visual ini memiliki peran yang serupa dalam perjalanan sejarah visual di Indonesia sebagai alat dokumentasi, refleksi sosial, pendidikan publik, hingga komunikasi politik.
“Kami menyambut baik gagasan Bapak Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk menjadikan Gedung Jiwa Sraya sebagai museum fotografi. Kami justru melihat peluang yang lebih luas: mengapa tidak dikembangkan menjadi ruang kebudayaan yang juga menghadirkan Museum Kartun Indonesia? Keduanya memiliki kedekatan sejarah dan sama-sama tumbuh dari akar media cetak,” ujar Abdullah Ibnu Thalhah pada Selasa (8/9/2026).
Thalhah yang juga berprofesi sebagai dosen seni budaya di UIN Walisongo Semarang memaparkan bahwa karya kartun nasional memiliki nilai sejarah kebangsaan yang kuat. Berdasarkan riset internal Pakarti, ditemukan jejak karya kartun dan karikatur bernilai historis tinggi yang digambar oleh sejumlah tokoh pergerakan nasional, seperti Bung Karno pada masa mudanya serta Ernest Douwes Dekker.
![]() |
| Kartun karya Bung Karno di Media Fikiran Ra'jat. (dok Istimewa) |
“Berdasarkan hasil riset dan penelusuran Pakarti, ditemukan karya-karya kartun yang dibuat oleh Soekarno dan Ernest Douwes Dekker. Karya-karya tersebut tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga merupakan bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Keduanya memperlihatkan bagaimana gambar, humor, simbol dan kritik visual digunakan untuk merekam gagasan, semangat zaman serta dinamika perjuangan kebangsaan,” kata Thalhah.
Ia menambahkan bahwa karya-karya berharga ini perlu diteliti, dirawat, dan didokumentasikan secara serius oleh sebuah lembaga khusus agar dapat diakses oleh masyarakat luas.
Dukungan terhadap usulan pemanfaatan Gedung Jiwa Sraya sebagai museum bersama ini juga disuarakan oleh arsitek senior sekaligus mantan Ketua Dewan Tata Kota Semarang, Prof. Ir. Totok Roesmanto, Eng.
Totok menyatakan bahwa cagar budaya harus dihidupkan kembali melalui aktivitas kebudayaan yang dinamis. Terlebih, Semarang memiliki sejarah panjang dalam dunia pers dan kartun nasional hingga sering dijuluki sebagai "ibukota kartun Nusantara".
“Keberadaan museum fotografi bersama museum kartun akan semakin menghidupkan Kota Lama secara artistik dan interaktif. Apalagi kita tahu, kartun memiliki sejarah khusus bagi kota Semarang hingga kota ini memiliki sebutan sebagai ‘ibukota kartun Nusantara’,” papar Prof. Totok.
Semarang tercatat telah lama menjadi salah satu pusat perkembangan kartun di Indonesia dan aktif menyelenggarakan festival kartun internasional sejak tahun 1988.
Sebagai tindak lanjut atas gagasan ini, Pakarti menyatakan kesiapan untuk membuka komunikasi dan berdialog dengan Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kota Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta pemangku kepentingan terkait lainnya. Pakarti juga siap menyumbangkan hasil riset serta koleksi kartun bersejarah mereka sebagai koleksi awal pengembangan museum.
“Pakarti siap menyumbangkan koleksi, hasil riset, pengetahuan, jaringan kartunis Indonesia maupun gagasan kuratorial untuk mewujudkan ruang museum kartun Indonesia di Semarang. Kami percaya fotografi, kartun, arsitektur, sejarah dan seni dapat bertemu dalam satu ekosistem kebudayaan,” pungkas Thalhah.
Di sisi legislatif, Senator DPD RI asal Jawa Tengah, Dr. Abdul Kholik, menyambut baik usulan sinergis ini dan menyatakan sedang berupaya membantu mengomunikasikan aspirasi Pakarti ke Kementerian Kebudayaan di Jakarta.
“Kami sedang membantu mengkomunikasikan ide kreatif ini ke kementerian kebudayaan di Jakarta. Kedua gagasan, baik gagasan kementerian kebudayaan maupun teman-teman Pakarti bisa disinergikan dan saling menyempurnakan, sehingga nantinya bisa diambil manfaat yang lebih besar bagi kemajuan kebudayaan,” ungkap Abdul Kholik.***

