TfCoBUA5GUO9GUA5BUM7TSAp
Anda cari apa?

Labels

Muhibah Budaya Yogyakarta 2026 di Sragen Resmi Berakhir, Perkuat Ikatan Sejarah Mataram

Malam puncak Muhibah Budaya Yogyakarta 2026 di Kabupaten Sragen (Sumber: YT Buana Asri TV)

SEMARANG, BABAD.ID | Stori Loka Jawa
– Rangkaian kegiatan Muhibah Budaya Yogyakarta tahun 2026 di Kabupaten Sragen resmi berakhir melalui malam puncak yang digelar di halaman Kantor Terpadu Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen pada Kamis (9/7/2026). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Kebudayaan Provinsi DIY tersebut menjadi ajang memperkuat kembali ikatan sejarah dan budaya antara Kabupaten Sragen dengan Yogyakarta.

Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan bahwa kehadiran delegasi Pemda DIY bersama Keraton Yogyakarta di Bumi Sukowati merupakan sebuah kehormatan sekaligus ikhtiar merajut kembali nilai-nilai budaya Mataram. Mengusung tema "Merajut Budaya Mataraman dari Jogja untuk Indonesia", Sri Sultan menjelaskan bahwa meskipun wilayah Mataram terpisah secara administratif pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755, etika, estetika, dan filosofi Mataram tetap hidup di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sragen.
Dalam sambutannya, Sri Sultan HB X mengungkapkan bahwa di tanah Sragen, tepatnya pada 27 Mei 1746 di pendopo Pandak Kikilan, Masaran, Pangeran Mangkubumi meletakkan titik nol kedaulatan dengan membentuk pemerintahan, yang kini diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sragen. "suatu kehormatan bagi delegasi Pemda DIY bersama keraton Yogyakarta dapat hadlir di bumi Sukowati ini dalam rangkaian kegiatan muhibah budaya dengan tema meracut budaya Mataraman dari Jogja untuk Indonesia marilah berucap syukur ke hadapan Tuhan yang maha esa yang berkenan melimpahkan berkah dan rahmat-Nya sehingga muhibah budaya ini dapat diselenggarakan dengan penuh kekhidmatan," ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X. Menurut beliau, jejak sejarah tersebut menjadikan Sragen layak disebut sebagai saudara tua Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, S.IP., M.A., menyambut hangat kunjungan tersebut dan menilai kedatangan Raja Keraton Yogyakarta sebagai momentum penting untuk menyambung kembali hubungan sejarah antara Sragen dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bupati menjelaskan bahwa keberadaan Kabupaten Sragen tidak dapat dilepaskan dari jalinan kepahlawanan leluhur Yogyakarta, di mana peringatan Hari Jadi Sragen setiap tanggal 27 Mei merujuk langsung pada peristiwa kepahlawanan Pangeran Mangkubumi yang kelak bertakhta sebagai Raja Pertama Kasultanan Yogyakarta bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
"kunjungan muhabbah budaya saking ngarso dalem beserta rombongan hari ini dari Yogyakarta merupakan sebuah anugerah kehormatan dan berkah yang sangat luar biasa bagi kami pada hari jadi Sragen yang ke-280 di tahun 2026 ini kehadiran Ngarso Dalem tidak hanya membawa kegembiraan bagi kami secara fisik tetapi juga membawa siraman kesejukan spiritual dan kultural bagi seluruh masyarakat Sragen," kata Bupati Sragen Sigit Pamungkas.
Rangkaian Muhibah Budaya Yogyakarta 2026 sendiri telah berlangsung sejak 2 hingga 9 Juli 2026 dengan menghadirkan beragam kegiatan, seperti sarasehan sejarah, workshop, pameran warga, hingga pameran sejarah dan permuseuman. Pada malam puncak penutupan, masyarakat Sragen disuguhkan berbagai pertunjukan seni sejak sore hari, antara lain tari klasik, reok, marching band, pasar rakyat, serta pementasan kesenian tradisional mencakup mocopat, tari Jejak Juang Sang Pangeran di Tanah Merdeka Mangkubumi, tari Golek Kutut Manggung, hingga Beksan Lawung Ringgit dari Keraton Yogyakarta.

0Komentar

Tambahkan komentar
© Copyright - berita.babad.id

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • 085875035147
  • redaksibabad.id@gmail.com