Festival
Payung Indonesia 2026: Ketika Payung Tradisional Menjadi Ruang Kreativitas di
Solo
SOLO, BABAD.ID | Stori Loka Jawa – Dari benda sederhana yang
digunakan untuk melindungi diri dari hujan dan terik matahari, payung
tradisional menjelma menjadi ruang bagi seni, kreativitas, dan cerita budaya
masyarakat. Perubahan itu terlihat dalam gelaran Festival Payung Indonesia
(FESPIN) ke-13 yang berlangsung di Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, pada
4–6 September 2026.
Mengusung tema “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri”,
FESPIN tahun ini mengangkat hubungan antara payung, budaya pangan, dan tradisi
pertanian masyarakat Nusantara. Tema tersebut terinspirasi dari sosok Dewi Sri
yang dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa dan Nusantara dikenal berkaitan dengan
kesuburan dan kehidupan pertanian.
Di kawasan Taman Balekambang, payung tidak hanya
hadir sebagai benda pakai. Lebih dari 5.000 karya payung ditampilkan dalam
berbagai bentuk dan teknik kriya, mulai dari rajut, sulam, hingga perca.
Berbagai karya tersebut berdampingan dengan pertunjukan tari, musik, fashion,
dan teater yang menghidupkan suasana festival.
Bagi Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani,
kekuatan Fespin terletak pada kemampuannya mengolah benda yang dekat dengan
kehidupan sehari-hari menjadi karya yang memiliki nilai budaya sekaligus
ekonomi.
“Festival ini bukan sekadar tentang payung. Di
balik sebuah payung ada karya, ada kreativitas, ada tradisi, ada cerita, dan
ada semangat untuk terus menciptakan sesuatu yang baru,” kata Astrid saat menghadiri
pembukaan FESPIN ke-13 di Taman Balekambang.
Pandangan tersebut terlihat dari beragam karya yang
ditampilkan selama festival. Payung tradisional tidak hanya dipertahankan dalam
bentuk aslinya, tetapi juga dikembangkan melalui kreativitas para seniman dan
perajin.
Bagi para perajin, perkembangan tersebut menjadi
salah satu cara agar kerajinan payung tetap dikenal dan memiliki tempat di
tengah perubahan zaman. Festival menjadi ruang untuk mempertemukan tradisi
dengan gagasan baru tanpa harus meninggalkan identitas budaya yang melekat pada
payung.
Direktur Festival Payung Indonesia Heru Mataya
mengatakan bahwa pelestarian payung tradisional perlu berjalan beriringan
dengan pengembangan kreativitas.
“Pelestarian payung tradisi harus diikuti
pengembangan modern. Jadi tradisinya tetap hidup, tetapi kreativitasnya juga
berkembang,” ujarnya.
FESPIN ke-13 melibatkan sekitar 3.000 seniman dan
artisan dari hampir 40 kota. Pengunjung tidak hanya dapat melihat hasil karya,
tetapi juga menyaksikan proses kreatif melalui berbagai kegiatan, termasuk
lokakarya pembuatan payung.
Kehadiran peserta dari luar daerah dan sejumlah
negara lain turut memperluas perjumpaan budaya dalam festival. Namun, bagi
penyelenggara, pertemuan tersebut tetap berangkat dari satu hal yang sederhana:
payung sebagai bagian dari kekayaan tradisi yang dapat terus dikembangkan
melalui karya.
Selain menjadi ruang bagi seniman dan perajin,
festival ini juga membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan
produk mereka. Kehadiran pengunjung diharapkan turut memberikan manfaat bagi
sektor kuliner, transportasi, penginapan, dan usaha masyarakat di sekitar Kota
Surakarta.
Astrid mengatakan bahwa festival kebudayaan dapat
menjadi ruang bersama bagi seniman, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat
untuk berkembang.
“Ruang-ruang seperti Festival Payung memberi
kesempatan kepada para seniman untuk berkarya, komunitas untuk berkolaborasi,
UMKM untuk berkembang, sekaligus memberikan pengalaman bagi masyarakat dan
wisatawan untuk menikmati Solo dari sisi yang berbeda,” tutur Astrid.
Di tengah riuh pertunjukan dan warna-warni karya
yang memenuhi Taman Balekambang, payung hadir dengan cerita yang lebih panjang
dari sekadar benda pelindung hujan dan panas. Di tangan para perajin dan
seniman, payung menjadi bagian dari cara masyarakat merawat tradisi sekaligus
membuka ruang bagi gagasan-gagasan baru.
Melalui karya, kolaborasi, dan
ruang pertemuan seperti Festival Payung Indonesia, payung tradisional terus
menemukan bentuk baru tanpa kehilangan cerita yang melekat di dalamnya. Dari
tangan para perajin, warisan itu kembali diperkenalkan kepada generasi yang
lebih muda bukan sebagai benda masa lalu, melainkan sebagai bagian dari
kebudayaan yang masih dapat terus tumbuh.
