TfCoBUA5GUO9GUA5BUM7TSAp
Anda cari apa?

Labels

Dari Jawa ke Suriname: Seabad Lebih Menjaga Bahasa dan Tradisi Leluhur

Warga keturunan Jawa di Suriname menampilkan tarian tradisional saat acara budaya berlangsung. (Sumber: Kompas.com)

Ribuan kilometer dari tanah leluhur, di sebuah negara kecil di pesisir utara Amerika Selatan, bahasa Jawa masih hidup dalam percakapan sehari-hari. Suriname menjadi rumah bagi diperkirakan sekitar 80.000 keturunan Jawa yang hingga kini setia merawat budaya, tradisi, dan bahasa nenek moyang mereka. Kisah itu bermula lebih dari seratus tahun lalu. Antara 1890 dan 1939, sekitar 33.000 orang Jawa dibawa ke Suriname setelah penghapusan perbudakan. Sharon Pawiroredjo dari Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie (VHJI) menjelaskan bahwa pemerintah kolonial Belanda mendatangkan mereka sebagai buruh kontrak. Sebagian besar berasal dari Jawa Tengah dan wilayah sekitar Batavia (Jakarta), Surabaya, serta Semarang.

Rombongan pertama tiba pada 1896, dan kedatangan itu kini diabadikan dalam sebuah monumen berbentuk teklek, terompah kayu yang lekat dengan keseharian masyarakat Jawa. Bentuknya yang sederhana menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang para leluhur bermula dari bekal yang tidak banyak. Seabad lebih berselang, identitas itu tetap terjaga. Salah satu penopangnya adalah SIJE, organisasi budaya Jawa terbesar di Suriname yang berdiri sejak 1985. Seluruh anggotanya adalah keturunan imigran Jawa, dan organisasi ini menjadi wadah untuk melestarikan tradisi mereka. Jarak yang jauh pun tidak memutus hubungan dengan keluarga di Indonesia. Teknologi membantu mereka tetap terhubung lewat telepon, WhatsApp, dan Facebook. Untuk pertemuan tatap muka, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriname rutin menggelar program family trip, sehingga warga keturunan Jawa dapat berkunjung dan bersilaturahmi langsung dengan kerabat di tanah air.

Bahasa menjadi bagian yang paling menarik. Bahasa Jawa di Suriname tergolong sangat terjaga, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan bahasa Jawa di Indonesia. Perbedaannya terutama ada pada kosakata dan tata bahasa. Selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan masyarakat setempat, bahasa Jawa di sana berkembang bersama Sranan Tongo, bahasa pergaulan warga Suriname, dan menyerap kosakata bahasa Belanda sejak masa kolonial. Hasilnya adalah ragam bahasa Jawa yang khas, lahir dari pertemuan berbagai budaya. Kisah masyarakat Jawa di Suriname menunjukkan bahwa budaya tidak hanya bertahan di tempat asalnya. Ia bisa berpindah, beradaptasi, dan tetap hidup selama ada orang yang mau merawatnya. Bagi kita di Indonesia, khususnya di Jawa, cerita ini juga menjadi cermin tentang bagaimana bahasa dan tradisi sendiri patut dijaga.

Sumber: Kompas.com (YouTube), "Banyak Orang Jawa di Suriname, Ini Sejarah dan Perbedaan Bahasanya", diunggah 15 Juli 2022, https://youtu.be/xBM49DK2EP0.

0Komentar

Tambahkan komentar
© Copyright - berita.babad.id

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • 085875035147
  • redaksibabad.id@gmail.com