![]() |
| Presiden Prabowo Subianto tiba di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dalam agenda pembukaan Muktamar ke-35 NU. |
JOMBANG, BABAD.ID | Stori Loka Jawa – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto secara resmi membuka gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang bertempat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 27 Agustus 2026. Muktamar ini menjadi peristiwa bersejarah karena merupakan muktamar pertama yang diselenggarakan di abad kedua berdirinya organisasi tersebut.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelaksana, Saifullah Yusuf, menyampaikan bahwa persiapan acara besar ini dilakukan secara maraton hanya dalam waktu 50 hari.
Muktamar ini diikuti oleh 2.232 delegasi resmi yang terdiri dari 38 Pengurus Wilayah (PWNU), lebih dari 550 Pengurus Cabang (PCNU), serta 33 Pengurus Cabang Istimewa (PCINU) dari seluruh dunia.
Selain peserta resmi, diperkirakan lebih dari 50.000 simpatisan hadir memadati area pesantren.
Gus Ipul juga menonjolkan penggunaan teknologi canggih dalam muktamar kali ini, di mana sistem registrasi dan pemantauan peserta berbasis cip dan kecerdasan buatan (AI) dirancang sepenuhnya oleh para santri. Di sektor ekonomi, sebanyak 1.500 stan UMKM turut serta menggerakkan ekonomi lokal selama masa muktamar.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dalam pidatonya menegaskan bahwa dengan jumlah warga NU yang mencapai 57% dari penduduk Muslim Indonesia—atau lebih dari 120 juta jiwa—NU memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi penyangga negara.
Gus Yahya menekankan pentingnya prinsip Ta'awun (tolong-menolong) sebagai landasan tatanan kemasyarakatan agar program pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Ia menegaskan bahwa arah NU harus senantiasa sejalan dengan arah bangsa dan negara.
Senada dengan hal tersebut, Rais Aam Syuriah PBNU, KH Miftachul Akhyar, mengungkapkan rasa syukur karena muktamar ini terlaksana di bulan Maulid Nabi Muhammad SAW serta bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Beliau mengingatkan kembali jasa besar KH Wahab Hasbullah dalam meletakkan fondasi perjuangan bangsa.
Dalam amanat pembukaannya, Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan istilah "Jas Hijau", singkatan dari "Jangan Sekali-kali Melupakan Jasa Ulama". Sebagai bentuk dukungan nyata, Presiden berjanji bahwa seluruh ruang kelas di sekolah dan pesantren NU akan menerima bantuan layar interaktif, setara dengan fasilitas sekolah negeri.
Presiden juga memaparkan capaian pemerintah dalam hal swasembada pangan serta target swasembada energi dalam waktu dekat. Ia menegaskan komitmennya untuk memberantas korupsi demi melindungi kekayaan negara. Presiden menutup sambutannya dengan menegaskan, "NU kuat artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun".
Acara pembukaan ini turut dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, para mantan Wakil Presiden, jajaran Menteri Kabinet Merah Putih, serta tokoh lintas organisasi seperti Ketua Umum PP Muhammadiyah Haidar Nasir.***
