SEMARANG, babad.id | Stori Loka Jawa – Sebuah upaya kreatif untuk melahirkan identitas budaya baru di Kota Semarang terus digeliatkan. Sebagai salah satu rangkaian dari Festival Bubak Semarang 2026, sebuah Workshop Batik sukses digelar pada 30–31 Mei 2026 di RW 04, Kelurahan Krapyak, Kota Semarang.
Kegiatan yang mewadahi ibu-ibu kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), remaja setempat, hingga anggota Gambang Semarang Art Company (GSAC) ini tidak sekadar mengajarkan teknik membatik. Lebih dari itu, ruang kreatif ini menjadi medium yang hangat untuk memperkenalkan sosok Nyi Bubak, karakter utama yang menjadi ikon dalam Festival Bubak Semarang.
Pimpinan Produksi Festival Bubak Semarang, Joshua Alfin Pradita, mengungkapkan bahwa workshop ini merupakan langkah strategis untuk mendekatkan Nyi Bubak kepada masyarakat luas. Ia menuturkan, lahirnya karakter tersebut bermula dari keresahan para seniman Semarang yang ingin menyuguhkan ikon budaya baru yang membumi, sebagai pendamping Warak Ngendog yang sudah lebih dulu melegenda.
“Nyi Bubak menjadi representasi perjuangan dan tantangan yang dihadapi para seniman di Semarang. Melalui karakter ini, kami ingin menghadirkan identitas budaya yang dapat diterima oleh masyarakat luas,” katanya.
Sebagai informasi, Festival Bubak sendiri merupakan hajatan budaya yang berdedikasi mengangkat kembali sejarah, memori kolektif, dan kekayaan tradisi Kota Semarang melalui ragam kegiatan seni serta pemberdayaan masyarakat. Salah satu akar budaya yang diangkat adalah Gambang Semarang, kesenian yang lahir dari akulturasi harmonis antara budaya Jawa dan Tionghoa.
Menegaskan filosofi di balik sang ikon, Kurator Seni sekaligus Ilustrator Nyi Bubak, Dina Prasetyawan, memaparkan bahwa sosok tersebut dirancang secara matang untuk menjadi simbol kebudayaan kebanggaan Semarang. Nyi Bubak direpresentasikan sebagai entitas pelindung kota yang membawa spirit seni dan budaya, serta didesain agar relevan dan diterima oleh lintas generasi.
“Nyi Bubak merupakan tokoh fiksi yang diciptakan secara kolektif oleh para seniman di GSAC khususnya. Sosok ini menggambarkan figur yang memiliki kedudukan tinggi, tetapi tetap dekat dan membaur dengan masyarakat,” katanya.
Menjaga Tradisi Lewat Goresan Malam
Tak hanya mendalami filosofi budaya, para peserta diajak langsung menyelami warisan kriya nusantara melalui tahapan pembuatan batik cap—mulai dari pengenalan alat hingga teknik pewarnaan.
Nur Cholifah, mentor workshop sekaligus istri dari pemilik Sanggar Batik Trustha Wasis asal Ambarawa, memberikan panduan teknis secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa proses membatik menuntut ketelitian tinggi agar hasil warna tak mudah pudar.
Sebelum masuk pada tahap pencapan, Nur mengarahkan agar meja kerja disiapkan dengan cermat. Kain terlebih dahulu dilapisi dengan beberapa material pelindung, yakni alas kain, kertas semen, dan plastik kaca. Setelah alas siap, lilin malam dipanaskan di atas wajan dengan suhu yang pas sebelum digunakan untuk mencetak motif.
Tahap pasca-pewarnaan rupanya tak kalah krusial. Kain yang telah dicelup warna perlu dibilas dan dikibaskan guna mengangkat sisa malam yang masih menempel, lalu dijemur hingga benar-benar kering.
“Kalau proses pengeringannya kurang baik, atau kain berada dalam suhu yang terlalu dingin, warna batik lebih mudah luntur,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nur memberikan edukasi mengenai perbedaan mendasar antara batik cap dan batik tulis. Penggunaan stempel bermotif tembaga pada batik cap membuat proses pengerjaan menjadi jauh lebih efisien dengan hasil motif yang seragam.
“Kalau batik cap itu prosesnya lebih cepat karena menggunakan cap atau stempel yang sudah ada motifnya. Jadi tinggal dicelupkan ke malam lalu ditempelkan ke kain. Kalau batik tulis berbeda, harus digambar satu per satu menggunakan canting, sehingga membutuhkan waktu lebih lama dan ketelatenan yang lebih tinggi,” tutur Nur.
Antusiasme tergambar jelas selama kegiatan berlangsung. Para peserta tampak bergantian, dengan penuh kehati-hatian, mempraktikkan teknik mengecap motif pada kain yang telah disiapkan panitia.
Reporter, Arisda Ayu yang juga ikut serta pelatihan tak menyembunyikan rasa antusiasnya. Pengalaman ini memberinya perspektif baru, baik dari sisi keterampilan kriya maupun literasi budaya.
“Saya senang bisa ikut workshop ini karena dapat belajar membatik dari awal sampai selesai. Kegiatannya juga menarik karena tidak hanya praktik membatik, tetapi juga mengenalkan budaya dan cerita tentang Nyi Bubak yang sebelumnya belum saya ketahui,” tutupnya.***
Penulis: Hanifah Shabrina, Amaliyah
Reporter: Arisda Ayu, Putri Afriyani, Ayunda Puji