SEMARANG, babad.id | Stori Loka Jawa – Langkah kaki yang menyusuri gang-gang sempit di Kampung Batik Tengah, Kelurahan Rejomulyo, Semarang, seolah membawa kita pada lorong waktu yang sarat akan kontras. Di satu sudut, dinding-dinding gang masih bersolek cantik dengan mural warna-warni khas banyumasan dan pesisiran—sisa kejayaan konsep "Kampung Djadoel" yang sempat naik daun. Namun di sudut lain, kesunyian begitu pekat terasa. Selepas petang, riuh rendah wisatawan yang dahulu memadati kawasan ini kini berganti dengan sepi yang merayap perlahan.
Bagi masyarakat setempat, Kampung Batik Semarang lebih dari sekadar nama di papan jalan. Gang-gang sempitnya adalah saksi hidup yang mencatat bagaimana sebuah tradisi tertatih-tatih melangkah; berjuang untuk bertahan di antara sunyinya malam dan riuhnya dunia digital yang melaju serba cepat.
Saksi Bisu: dari Lahir hingga Mati Suri
Bagi Pak Rinadi Amin Setyono (70), Kampung Batik adalah rumah sekaligus garis hidupnya. Pria kelahiran tahun 1956 ini merupakan salah satu warga asli yang menyaksikan langsung bagaimana kampung ini bertransformasi dari masa ke masa.
"Dulu aslinya, kata Simbah, dinamakan Kampung Batik karena memang tempat sini tempatnya membatik," kenang Pak Rinadi.
Namun, sejarah tak selalu mengalir mulus. Kampung ini sempat menelan pil pahit dan mengalami masa kelam akibat kebakaran hebat pascapertempuran di era kemerdekaan. Tragedi itu membuat aktivitas membatik di kawasan ini mati suri selama berpuluh-puluh tahun.
Secercah harapan baru akhirnya merekah pada tahun 2006. Di tengah kekhawatiran akan sirnanya jejak Batik Semarangan, Pemerintah Kota Semarang mengambil langkah intervensi. Berdasarkan catatan penelitian tentang pelestarian Batik Semarangan, Wali Kota saat itu, Sukawi Sutarip, bersama sang istri, Sinto Sukawi, menggagas berbagai program pelatihan membatik bagi warga. Dari rahim program inilah lahir generasi pengrajin baru yang perlahan mengembalikan denyut nadi Kampung Batik Semarang.
Salah satu sosok yang tangguh bertahan sejak gelombang pelatihan pertama itu adalah Ibu Siti Afifah, pemilik label Batik Tiga.
"Tahun 2006 itu ada 20 peserta pemula, termasuk saya yang sama sekali tidak punya keturunan membatik," ujar Bu Afifah.
Pemerintah saat itu memberikan dukungan penuh. Fasilitas digelontorkan, mulai dari alat, modal, hingga memboyong para pengrajin pameran ke Bali dan Batam demi memperkenalkan kembali identitas Batik Semarangan ke panggung yang lebih luas. Puncaknya terjadi pada tahun 2017. Kawasan ini bersolek menjadi "Kampung Djadoel" (Belandja dan Doelanan), sukses memadukan wisata edukasi membatik dengan atmosfer lawas yang estetik.
Hantaman Krisis Global dan Sunyinya Malam
Sayangnya, masa-masa indah itu harus kembali diuji dalam beberapa tahun terakhir. Pak Rinadi mengisahkan bagaimana dinamika ekonomi dunia dan lokal mengubah drastis atmosfer kampungnya dalam kurun waktu 2023 hingga awal 2026.
"Tahun 2023, 2024 itu masih lumayan ramai pengunjung. Masjid itu kalau malam, jam 9 sampai jam 12 malam masih banyak orang nongkrong. Sekarang? Habis jam 7 malam, habis Isya, sudah sepi seperti perumahan mati," keluh Pak Rinadi dengan raut wajah sendu.
Ia menduga, lesunya kondisi ekonomi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga imbas konflik di belahan dunia lain secara tidak langsung memukul daya beli masyarakat dan minat berwisata.
"Tahun 2025 dan 2026 ini rasanya berat sekali. Orang jualan pada malas. Sekarang istilahnya Mai Yu Cien, enggak punya uang," tambahnya sembari terkekeh getir.
Selain faktor makroekonomi, badai tantangan terbesar justru menghantam dari ruang produksi itu sendiri. Mempertahankan idealisme pembuatan batik tulis dan cap tradisional jelas bukan perkara murah.
Bu Afifah membeberkan, modal dasar untuk selembar kain batik tulis kini bisa menembus angka Rp200.000. Itu belum termasuk curahan tenaga dan waktu pengerjaan yang menyita dua hingga tiga minggu. Risiko kegagalan dalam proses pewarnaan pun selalu mengintai. Jika gagal, kain-kain tersebut harus disiasati agar bisa dialihfungsikan menjadi produk turunan—seperti tas, sandal, atau topi—agar modal tidak amblas sepenuhnya.
"Ekonomi masyarakat sini kan menengah ke bawah. Akhirnya banyak warga yang dulu ikut pelatihan memilih menyerah. Alat-alatnya dikasihkan atau dijual ke saya," tutur Bu Afifah.
Ironisnya, beberapa toko di bagian depan kampung kini justru lebih banyak menjajakan batik instan yang dikulakan dari daerah lain seperti Pekalongan, Solo, atau Yogyakarta. Kondisi ini kian diperparah dengan serbuan kain bermotif batik hasil printing (tekstil sablon) buatan pabrik, termasuk produk impor dari China, yang membanjiri pasar dengan harga jauh lebih murah.
"Itu saingan terberat kita mbak. Kalau batik kami kan handmade, warna-warninya pakai cotton bud satu-satu. Biarpun motifnya sama, hasilnya tidak akan pernah persis sama. Itu nilainya," tegas Bu Afifah.
Harapan yang Enggan Padam
Walau roda ekonomi sedang berputar pelan di titik nadir, nyala semangat tak boleh dibiarkan padam. Kampung Batik Semarang menolak tunduk pada keadaan. Di tengah sepinya transaksi jual-beli, denyut kehidupan kampung ini justru terselamatkan oleh sektor pendidikan dan wisata edukasi.
Anak-anak sekolah, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga mahasiswa perguruan tinggi, masih kerap meramaikan workshop milik Bu Afifah untuk belajar menyanting. Bahkan, beberapa SMA negeri di Semarang masih menjadikan tempat ini sebagai rujukan wajib untuk ujian praktik membatik. Perlahan tapi pasti, strategi pemasaran pun mulai digeser merambah ranah digital melalui pemanfaatan media sosial dan Google Maps.
Daya tarik edukasi inilah yang memikat Sabita, seorang mahasiswi asal Semarang yang sedang melakukan survei tugas di kampung tersebut. Bagi generasi muda seperti Sabita, Kampung Batik tetap menyimpan magis tersendiri yang bernilai tinggi di tengah gempuran modernisasi yang pragmatis.
"Tempat ini masih sangat worth it dan menarik untuk dikunjungi. Sekarang kan orang-orang sudah mulai lupa (cara membatik), semua serba digital dan print. Di sini kita bisa melihat langsung proses manual pakai canting. Ini penting sekali untuk dilestarikan," ujar Sabita penuh antusias.
Kini, kepingan asa terus dirajut oleh para pengrajin yang tersisa di Kampung Batik Semarang. Mereka tengah menanti realisasi fasilitas baru, seperti perpustakaan kampung yang rencananya akan segera diresmikan. Fasilitas ini diharapkan mampu menjadi magnet baru untuk menarik minat anak-anak lokal agar sejenak beralih dari gawai mereka dan mengenal kembali warisan leluhurnya.
Harapan besar digantungkan kepada pemerintah dan seluruh elemen masyarakat agar promosi serta keberpihakan terhadap karya batik lokal terus digelorakan. Sebab, mempertahankan eksistensi Kampung Batik bukanlah semata soal menjaga perputaran roda ekonomi warga, melainkan sebuah ikhtiar mulia: merawat sepotong sejarah dan identitas Kota Atlas agar tak lumat digilas zaman.***