| Tangkapan layar Webinar MLTL Seri 35: "Ekosistem Manuskrip dan Ketahanan Budaya" yang diselengarakan oleh BRIN. (YouTube) |
Manuskrip Ruatan Jember: Mengapa Layar Digital Tak Bisa Gantikan Aksara Pegon?
Dalam banyak kasus, teknologi dianggap sebagai solusi tunggal bagi pelestarian budaya, namun tradisi masyarakat muslim di Jember, Jawa Timur, membuktikan sebaliknya. Dr. Agus Iswanto, peneliti BRIN, mengungkapkan bahwa dalam ritual Ngeruat Pandowo, naskah fisik bukan sekadar dokumentasi teks, melainkan syarat sahnya sebuah ritual.
Agus menegaskan bahwa naskah tersebut harus ditulis tangan dengan aksara Pegon dan tidak dapat digantikan oleh media digital maupun cetak. "Fisik manuskrip ini tidak bisa digantikan dengan media lain seperti cetak atau digital... syaratnya harus tulisan tangan beraksara pegon," tegas Agus dalam pemaparannya. Jika teks dibaca melalui layar gawai, nilai sakralitas dan fungsi ritualnya dianggap hilang sama sekali.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ketahanan budaya dalam ekosistem ini justru terletak pada aktivitas penyalinan manual yang terus menerus dilakukan oleh masyarakat karena kebutuhan ritual. Baginya, digitalisasi hanyalah salah satu cara mencegah kepunahan, namun bukan penyelamat utama.
"Digitalisasi bukan satu-satunya yang bisa menyelamatkan, tapi ekosistem dalam masyarakat itulah—ekosistem sosial budaya itulah yang bisa menyelamatkan," imbuh Agus.
Paradoks Warisan Dunia: Ironi Naskah yang Baru Berharga Setelah Tradisinya 'Mati'
Ketegangan muncul ketika standar pelestarian global sering kali tidak sejalan dengan praktik hidup di lapangan. Dr. Verena Meyer, pakar dari Universitas Leiden, menyoroti adanya paradoks dalam pengakuan internasional seperti Memory of the World oleh UNESCO, yang cenderung memprioritaskan naskah tertua (arketipe) yang sudah statis di museum.
Menurut Verena, tradisi yang masih produktif disalin dan digunakan masyarakat justru sering dianggap kurang "asli" atau kurang signifikan secara dokumenter. "Tradisi yang hidup justru bisa terlihat kurang penting, kurang mungkin diakui sebagai bagian dari yang dipanggil memori dunia oleh UNESCO," jelas Verena.
Ia mencatat sebuah pola di mana naskah baru dianggap sebagai pusaka yang sangat dihormati justru ketika masyarakat pemiliknya sudah tidak lagi mampu membaca atau menggunakannya dalam keseharian.
Fenomena ini menciptakan situasi di mana status sosial sebuah naskah naik drastis saat naskah tersebut "mati" sebagai bagian dari tradisi yang fungsional. "Ada pola yang lebih besar bahwa sebuah tradisi harus mati dulu baru kemudian dihargai sebagai peninggalan masa lalu yang penting dan bergengsi," papar Verena.
Melampaui Digitalisasi: Membangun Ekosistem yang Menghidupkan Kembali Ruh Tradisi
Kritik terhadap ketergantungan pada teknologi digital juga datang dari Muhammad Heno Wijayanto, peneliti doktoral BRIN. Melalui studi kasus transformasi teks Bima Suarga, ia menunjukkan bahwa meskipun digitalisasi membantu pengarsipan citra fisik, teknologi tersebut belum mampu menangkap dimensi spiritual dan pengalaman komunal dari sebuah naskah.
"Digitalisasi memang penting untuk pengarsipan, tetapi ia juga memiliki keterbatasan yang cukup besar karena hanya mengawetkan citra fisik naskah tapi belum dapat menangkap ruh dari itu terkait dengan sakralitas maupun pengalaman komunal ritualnya," ungkap Heno.
Ia berargumen bahwa revitalisasi budaya yang sejati membutuhkan performa atau ritual yang dialami langsung, bukan sekadar menonton teks di layar gawai.
Di sisi lain, para pakar memperingatkan risiko "aktivisme" peneliti yang terlalu bersemangat menghidupkan tradisi tanpa memahami tatanan sosial masyarakat pemiliknya. Verena Meyer secara tajam memperingatkan adanya bahaya konsekuensi yang tidak disengaja dari upaya pelestarian yang melampaui keinginan masyarakat lokal.
"Saya sangat curiga tentang argumen pelestarian... kalau pelestarian itu harus dicapai dengan harga apa pun," pungkas Verena, merujuk pada bayang-bayang neokolonialisme di mana pihak luar merasa lebih tahu cara menjaga warisan budaya dibandingkan masyarakat pemiliknya sendiri.
Pada akhirnya, ketahanan budaya menuntut pemahaman mendalam terhadap karakter spesifik setiap ekosistem manuskrip sebelum menentukan langkah pelestarian yang tepat.***